Bodoh? Terserah. Silakan kalian berpendapat apapun
tentangku. Aku memang tak pintar dalam
hal itu. Kau tau, orang sering menyebut hal itu cinta. Dengan egoku yang begitu
besar, diriku pernah berkata. That’s just a bullshit thing! Dan memang
begitulah adanya.
2013년 3월 14일
Seorang dosen native dari mata kuliah menulis memberikan sebuah “devoir” atau
tugas yang begitu sulit bagiku : “Ecrivez une poète
avec ces mots : Aimer, c’est …” yang berarti “Tulislah sebuah puisi
dengan kata-kata berikut : Mencintai, adalah…”
Sebuah pukulan telak untukku. Hei, yang aku tau
hanyalah mencintai keluargaku, teman-temanku dan super junior! Aku hanya bisa mencintai
satu orang yang bisa kuanggap sebagai “namja”. Yah, siapa lagi kalau bukan
salah satu dari 13 orang itu. Dan itupun aku sama sekali tak dapat
mendeskripsikannya. Aku selalu berkata bahwa cinta itu tak berarti jika harus
diekspresikan dengan kata-kata. Hal itu mungkin hanya untuk menutupi
kebodohanku yang sama sekali tak bisa mengekspresikan apa itu cinta dan
mencintai.
Lalu mengenai namja yang satu itu. Seorang master
besar dengan senyum joker bodoh yang selalu aku rindukan. Aku memang
mencintainya. Mungkin kalian pikir aku ini yeoja yang berpikiran sempit. Oh
ayolah, siapa yang tak ingin punya suami kaya, tampan, cerdas dan taat agama
sepertinya?
Kembali lagi pada hari dimana aku sedang di kelas
menulis. Beberapa menit setelah sang dosen native melayangkan tugas laknat itu,
kulihat sahabatku mulai menuliskan sesuatu di bukunya. Oke, ini seperti half
homework. Jadi kau bsa mengerjakannya saat itu juga. Entah apa yang ada diotak
sahabatku ini, namun baru sepuluh menit saja dia telah berhasil menciptakan
berbaris-baris kalimat yang kesemuanya adalah ekspresi “mencintai, adalah…”
Hah, sungguh aku tampak bodoh saat itu. Bukan apa-apa,
biasanya akupun akan begitu. Langsung mengerjakan apa yang diminta dosen dan
akan berhasil menciptakan berbaris-baris kalimat pula. Namun itu bukan untuk
hal yang bertemakan cinta! Bukan seperti ini!
Oh sial, bahkan sahabatku terus saja menulis dengan
wajah riangnya. Dan aku, hanya dapat memandang bodoh padanya. Ingin rasanya aku pulang lebih dulu saja.
Namun nyatanya dosen itupun belum mau menutup perkuliahan.
Cukup lama aku berpikir keras untuk menciptakan satu
saja kalimat menyebalkan itu. Otak ini terlalu susah untuk diajak kompromi.
Bahkan salah satu sahabatku yang lain berkata bahwa aku sudah mati rasa. Ah,
mungkin saja dia benar. Namun hatiku tak bisa mati untuk seseorang. Ya, orang
itu lagi. Si kuda jantan yang selalu menghantui hidupku. Aku terus
mengingatnya. Mencoba untuk mengeluarkan sebuah arti dari perasaanku padanya.
Lama. Sungguh terlalu lama waktuku untuk berpikir. Hingga akhirnya, lebih dari
setengah jam kemudian aku berhasil menuliskan sesuatu…
Aimer, c’est les pieds d’amour d’un cheval à mon cœur
(Mencintai
adalah derap langkah cinta sang kuda di hatiku)
by. Choi Hyekyung from Shin

Tidak ada komentar:
Posting Komentar