Selasa, 18 Desember 2012

WE ARE FAMILY


Disini kutemukan keluarga itu. Keluarga yang dapat membuatku menjadi lebih dewasa dari segi apapun. Bisa ku akui, aku begitu bodoh dan takut sebelum ini. Tapi setelah ku temukan sang “keluarga”, aku pun berubah. Tak seperti dulu. Ku kini lebih hidup karenanya.  Apakah kau merasakan hal yang sama, keluarga?


Kebahagiaan…
Itu yang kurasakan dalam diriku ketika kita bersama. Jika kau kumpulkan, mungkin kantung santa pun tak akan cukup untuk menampung semua moment kita. Coba saja ingat ketika kita masih tak tahu bagaimana caranya untuk memulai langkah bersama membangun sinergitas diatas empat perbedaan. Dan tanpa kita sadari, seiring waktu semua itu terjadi begitu saja. Hingga kini, waktu dimana kita tahu cara untuk melangkah, kita masih saja bersama.


“Laugh and Love” ada dalam diri kita. Meski kadang kita hujan datang dengan seenaknya menganggu, tapi itu tak masalah bagi kita bukan? Kita sama benci, tapi kita juga sama cinta. Jangan lupa hal itu, kawan. Aku bisa saja melaknatmu jika kau melakukannya! ^^




Lalu bagaimana selanjutnya? Bisakah seperti ini pula?
“Kami” tak serta merta meninggalkanmu, keluarga. Ingatlah, kita selalu bersama meski tak dalam satu “keluarga” lagi.




I LOVE MY FAMILY ...


(HIMPRO BSA 2012)

Kamis, 22 November 2012

FF - It's been A While (chapter 4 - END)

<chapter 3 preview>


“Mianhae, tapi aku bukan Minnie noonamu. Tolong jangan mempermainkanku, Kyuhyun-ssi.” Lirihnya sambil terisak.
Mwo? Aku sama sekali tak pernah mempermainkannya!
“Terimakasih telah menemaniku hari ini. Aku permisi.” Katanya mengakhiri pertemuan kami hari itu karena setelah itu ia pergi meninggalkanku terduduk sendiri.
Inikah kelemahanku? Bahkan aku tak sanggup untuk mengejarnya. Terkutuk kau Cho Kyuhyun! Dasar namja bodoh!


IT'S BEEN A WHILE
 
Chapter 4 - END 
 
 
Setelah kejadian itu Sungmin tak pernah datang lagi ke café. Aku sungguh menyesal dengan tindakan bodohku itu. Aku juga tak pernah melihat Sungmin ketika aku kuliah. Dia benar-benar menghilang. Bahkan ini sudah minggu ketiganya tak muncul dihadapanku. Sungguh, aku merindukannya.
“Sudah kukatakan, mereka dua orang yang berbeda.” Ucap Donghae hyung ketika ia berkunjung ke apartemenku.
“Tapi aku tak mempermainkannya, hyung!” sanggahku.
“Jelas-jelas kau mempermainkannya. Kau membawanya ke makam Sungmin, lalu kau cerita padanya kalau kau mencintai Sungmin dan terakhir kau malah menciumnya. Jika aku jadi dirinya mungkin aku akan membunuhmu bukan hanya menamparmu!” kata Dongahe hyung pedas.
“Sejahat itukah aku? Aku melakukannya begitu saja, hyung. Dan mungkin memang aku mulai menyukai Minnie sehingga aku bisa menciumnya seperti itu.”
“Tidak. Kau tidak akan menyukainya jika kau masih saja menganggap Sungmin yang sekarang Minnie noonamu yang telah meninggal.”
“Maksudmu hyung?”
“Cintailah dia sebagai Lee Sungmin yang kau kenal sekarang. Bukan Lee Sungmin yang telah pergi. Ia pun tak ingin hanya menjadi bayang-bayang Minnie noonamu. Dan menurutku dengan perlakuannya padamu kemarin, sepertinya ia menyukaimu. Hanya saja kau malah menyia-nyiakannya. Kau bertindak bodoh lagi, Cho Kyuhyun!”
Ah, penjelasan Donghae hyung ini semakin membuatku pusing. Namun aku mengerti semua salahku. Namja jenius sekaligus bodoh sepertiku memang telah berbuat dosa. Membuat orang yang mulai kucintai menangis. Dan kini, ia malah menghilang dari pandanganku.

Butjabeul geol geuraetnabwa
Naega deo saranghanda malhal geol
Gajin gae neomu eobseo, jul gae neomu eobseo
Andwaeneun jul arasseo
Gidaril geol geuraetnabwa
Naega doraol jul aratdamyeon
Honjaga anin nara neol jabeul su eobseo
Babo gatjiman mianhae
Na dasi neol bo bonaelgae

Sungguh, aku sungguh merindukannya. Jujur, memang aku mulai mencintainya. Dan kupastikan ini bukan karena dia sama dengan Minnie noona. Sejak kesalahanku di taman pemakaman itu, aku sadar bahwa aku tak boleh menganggapnya Minnie noonaku lagi. Lalu semakin hari aku semakin merindukannya. Dan kini aku tersiksa karena aku tak bisa untuk sekadar melihat senyum atau tawanya.
Hari ini aku kembali bekerja di café seperti biasa. Aku kini lebih sering berkutat di dapur café. Aku bahkan tak ingin bertatap muka langsung dengan pelanggan. Aku takut mereka akan tersinggung dengan ekspresi wajahku yang begitu muram.
Kyuhyun’s pov end

Normal pov

Sementara Kyuhyun masih berkutat dengan kopi, latte dan beberapa kue di dapur, Yesung tetap menyambut pelanggan seperti biasa.
Klingg
Salah satu pelanggan memasuki café itu. Seorang yeoja imut yang biasanya disambut oleh Kyuhyun. Namun hari ini tidak. Melainkan Yesung yang ditemui yeoja itu. Jelas hal itu membuatnya sedikit kecewa.
“Annyeonghaseyo… Selamat datang di kona beans.” Sapa Yseung pada yeoja itu.
“Ah maaf, Kyuhyun-ssi tidak bekerja hari ini?” Tanya yeoja itu yang diyakini bernama Lee Sungmin.
“Dia bekerja. Hanya saja dia di dapur. Bisa kupanggilkan…”
“Ah, ani. Tolong sampaikan pesanku saja. Aku hanya ingin berpamitan padanya. Aku akan berangkat ke Jepang jam 3 sore ini. Tolong sampaikan maafku juga padanya.” Ucap Sungmin.
Yesung memandang aneh dengan yeoja dihadapannya ini. “Kau yakin tak ingin menemuinya saja?”
“Tidak perlu. Tolong nanti kau sampaikan saja.” Jawab Sungmin singkat.
“Baiklah. Lalu aku harus menyampaikan pesan dari nona siapa?” Tanya yesung.
“Ah, berikan saja ini padanya.”
Sungmin memberikan segulung kertas sketsa pada Yesung. Walaupun tak mengerti, Yesung tetap mengambil kertas itu dan menyimpannya.
“Keurae. Aku akan menyampaikannya.”
“Gamsahamnida. Aku permisi.”
.
.
Kyuhyun’s pov

Siang itu Donghae hyung datang ke café. Hal itu membuatku mau tak mau harus keluar dari dapur dan menemaninya di meja bar. Walaupun sebenarnya aku enggan sekali melakukan hal itu.
“Mengapa kau datang saat jam kerja, hyung?” tanyaku padanya.
“Semua laporanku telah selesai dan tak ada pilihan lain lagi selain datang ke café ini dan menamani adikku yang tengah depresi.” Ucapnya sambil tertawa.
“Ya! Sepertinya kau senang sekali melihatku seperti ini!” bentakku.
“Kyuhyun ah.” Panggil Yesung hyung padaku.
“Ne?”
“Tadi seorang yeoja meminta tolong padaku untuk menyampaikan beberapa pesan padamu.” Kata Yesung hyung sambil merapikan beberapa gelas dan cangkir di meja bar.
Seorang yeoja? Pesan?
“Pesan apa hyung?”
“Katanya dia hanya ingin berpamitan padamu karena dia akan berangkat ke Jepang jam 3 sore ini. Dia juga ingin meminta maaf padamu entah karena apa.”
Tunggu… jangan-jangan…
“Ah, iya. Dia juga memintaku untuk menyerahkan ini padamu.” Lanjut Yesung hyung.
Kemudian ia memberiku segulung kertas sketsa yang diambilnya dari nakas penyimpanan. Sungguh, perasaanku mengatakan ini bukan hal yang baik.
“Gyeongbokgung?” kataku tiba-tiba saat membuka gulungan kertas sketsa itu.
Ya Tuhan! Minnie!
Donghae hyung yang sepertinya mengerti keadaanku langsung saja berkata, “Kejarlah, kau tak ingin terlambat untuk yang kedua kalinya kan?”
“Hyung, ini jam berapa?” tanyaku gugup pada kedua hyungdeul yang ada di depanku.
“Jam 2.45.” jawab Yesung hyung.
Sial! Aku hanya punya waktu 15 menit untuk mengejarnya. Kumohon Minnie, jangan pergi.
“Hyung, boleh aku pinjam mobilmu?” pintaku pada Donghae hyung.
“Tentu saja.” Katanya sambil meletakkan sebuah kunci mobil di atas meja bar.
Tanpa pikir panjang aku segera mengambil kunci mobil dan keluar dari café. Aku tak peduli apa yang dipikirkan orang lain tentang cara mengemudiku. Mungkin mereka menganggap diriku ini pengemudi yang gila. Memang aku gila. Aku gila karenaa terlalu takut kehilangan cintaku untuk kedua kalinya.
Aku memarkir mobil itu tak jelas di depan pintu masuk bandara Incheon. Tak peduli dengan keadaan mobil atau petugas bandara yang meneriakiku karena parker tak beraturan. Masa bodoh dengan semua itu. Kini aku hanya akan mengejar minnieku. Ya, inilah nasibku. Aku kembali harus mengejar cintaku sebelum dia pergi jauh dariku.
Aku berlarian mengelilingi bandara super besar itu. Sesekali aku melirik jam tanganku. Sial! Jam 3.05. Aku benar-benar terlambat. Jantungku berdetak tak beraturan. Sungguh, aku benar-benar takut kehilangannya. Jadi kuputuskan untuk mencari sumber informasinya. Tiba-tiba saja ide jenius itu muncul di otakku. Setelah aku menemukan tempat itu, segera saja aku meminta ijin petugas disana. Tak mudah bagiku untuk meyakinkan petugas disana. Dan akhirnya…
Kyuhyun’s pov end

Sungmin’s pov

“LEE SUNGMIN, JEONGMAL MIANHAEYO! SARANGHANDA!”
Suara ini…
Aku baru saja keluar dari kamar mandi bandara Incheon ketika aku mendengar suaranya yang menggelegar di seluruh bandara. Apa-apaan ini?
Tak lama setelah itu aku melihat seorang namja berlari kearahku. Namja yang begitu kukenal. Namja yang begitu kurindukan.
“Kyuhyun?”
Dia berhenti beberapa meter di depanku dan menatapku dalam. Kulihat kesedihan sekaligus kelegaan diwajahnya. Lalu ia berjalan kearahku dan segera membawaku dalam pelukan hangatnya.
“Kau bukan Minnie noonaku. Dan aku tetap mencintaimu. Jeongmal saranghae, Minnie ah.”
Wajahku terasa sangat panas. Tanpa kukomando, air mataku jatuh begitu saja. Bahagia. Ya, itu air mata bahagia. Dan aku menangis dalam pelukannya.
Ia melepas pelukan itu, meraih kedua pipiku dengan telapak tangannya dan menatapku lekat-lekat. “Katakan nado, jebal!”
Aku pun mengangguk sambil masih terisak. “Nado. Nado saranghae, Kyuhyun ah.”
Selanjutnya ia mendekatkan wajahnya padaku danmembawaku pada ciuman panjangnya. Dengan senang hati kubalas ciuman itu. Sesekali ia melumat bibirku lembut. Aku hanya bisa menurut padanya. Kini aku sungguh bahagia.
.
.
Jepang, pukul 10.00 p.m.
Ddrrt…ddrrt…
Handphoneku berbunyi lagi untuk keempat kalinya sejak kutinggal mandi tadi. Segera saja kuambil benda pink itu dan membuka empat pesan yang belum terbaca olehku.

From : Kyuhyunnie
Minnie, kau sudah sampai di Jepang?

From : Kyuhyunnie
Chagi, kau baik-baik saja? Mengapa kau tidak membalas pesanku? Kau sudah makan?

From : Kyuhyunnie
Minnie Chagi, kau kemana saja?!

From : Kyuhyunnie
Ya! Cepat balas pesanku! Kau membuatku gila!

Aku tersenyum membaca semua pesan darinya. Lucu sekali. Jika saja dia ada di hadapanku sekarang mungkin aku sudah mencubit pipi tembemnya berkali-kali.

To : Kyuhyunnie
Mianhae, aku baru saja mandi. Aku tak tahu kalau kau mengirimiku pesan sebanyak itu. Aku sudah makan. Kuharap kau juga makan dengan baik disitu.
Send.
Baiklah. Kita tunggu apa balasan darinya. Tak butuh waktu lama untuk menunggu karena semenit kemudian ia telah membalas pesan itu.

From : Kyuhyunnie
Tentu saja aku makan dengan baik. Aku tak ingin berubah kurus ketika kau pulang nanti. Dan kau jahat sekali!

To : Kyuhyunnie
Jahat? Jahat bagaimana?

From : Kyuhyunnie
Kau meninggalkanku! Tega sekali kau meninggalkan namja tampan yang sangat mencintaimu ini.
Ish… Namja ini manja sekali. Tapi aku menyukainya!
To : Kyuhyunnie
Jeongmal mianhae. Aku harus menerima beasiswa itu. Tunggu aku pulang ne?

From : Kyuhyunnie
Keurae. Kau jangan tertarik namja lain disana!

Jadilah malam itu kami saling berkirim pesan hingga akhirnya aku tertidur entah pukul berapa.
Sungmin’s pov end

Mollabol geol geuraetnabwa
Neol darmeun saramiji geuraesso
Ne ape inneun neoreul, aesseo utneun neoreul
Ana jul sudo eomneunde
Seuchyeogal geol geuratnabwa
Gogae dollijil mal geol geuraesseo
Meoreojyeo ganeun neorul nan jabeulsu eobseo
Dasi hanbeon deo butakhae
Naboda deo haengbokhae

1 Tahun Kemudian
Kyuhyun’s pov
Disinilah aku sekarang. Setelah menunggu lama, aku kembali lagi ke tempat dimana aku mengejar Sungmin satu tahun yang lalu. Dan beberapa menit lagi, aku akan melihatnya. Melihat senyumnya, melihat tawanya kembali.
Setelah itu, aku melihat seorang yeoja keluar dari gate 3 bandara Incheon yang menandakan semua penumpang itu baru saja dari Jepang. Yeoja manis itu terlihat mencari seseorang. Dan aku tahu pasti siapa orang yang dicarinya. Segera saja aku mendekatinya sambil membawa buket bunga mawar yang sudah kubeli sebelum sampai di bandara. Aku berdiri di belakang yeoja itu dan menyerahkan bunga mawar tepat di wajahnya.
“Selamat datang kembali di Korea, chagi.”
“Kyuhyun ah?” Ia segera mengahmbur ke pelukanku. “Jeongmal bogoshipeoyo!”
“Nado, chagiya.” Lirihku.
.
.
“Kyuhyun ah, bisakah kita ke suatu tempat sebelum kita pulang?” tanyanya ketika kami sedang berada di mobil Donghae hyung yang kupinjam hari ini.
Aneh sekali yeoja satu ini. Apa dia tak lelah setelah menempuh perjalanan sejauh itu?
 “Kau mau kemana?”
 “Aku ingin bertemu Sungmin eonni.”
Mwo?
“Chagiya, sudahlah. Aku tak ingin mempermasalahkan itu lagi.” Kataku mencegahnya untuk bertindak bodoh.
“Ani kyu. Bukan itu yang ku maksud. Bawa saja aku ke sana. Jebaaall…” pintanya sambil menangkupkan kedua telapak tangannya dan berkedip-kedip padaku.
“Aish, baiklah. Tapi hentikan tingkah aegyomu itu. Kau membuatku tak tahan untuk menciummu!”
“Mwo?!”
Haha… Kurasa wajahnya benar-benar seperti kepiting rebus kali ini. Aku tak peduli. Lagipula menggodanya adalah suatu kesenangan tersendiri untukku. Aku terus saja memacu mobil ini hingga kami sampai di pemakaman pusat Seoul.
Ketika kami sampai di depan pusara Minnie noona dia segera memberinya hormat secara formal. Hah? Ada apa dengan yeoja ini?
“Eonni…” katanya tiba-tiba sambil menatap pusara itu.
“Mianhae eonni, aku seperti mengambil Kyuhyun darimu. Tapi tenang saja, aku akan menjaganya untukmu. Apapun yang terjadi aku tak akan meninggalkannya. Kau percaya padaku kan, eonni?”
Mwo? Dia bisa berkata seperti itu setelah kejadian setahun yang lalu? Entah mengapa aku begitu terharu saat ini. Ya Tuhan, terimakasih kau telah memberiku malaikat sepertinya.
“Kau tak menjawabnya, eonni. Kuanggap itu jawaban iya!” katanya ceria.
Aku segera menggandeng tangannya. Kulihat dia begitu terkejut atas perlakuanku itu.
“Mianhae noona, sepertinya aku lebih mencintai Sungmin yang ada disampingku.” Kataku pada pusara Minnie noona.
Langsung saja kubalikkan badan Sungmin agar menghadap padaku. Tak perlu aku meminta ijinnya langsung saja kudekatkan wajahku padanya.
“Kyu, apa yang kau… ehmmp…”
Aku membekap bibirnya dengan bibirku. Tak hanya menempel, aku juga melumat bibir M itu. Merasakan bibir plumpnya yang begitu manis. Sungmin sempat berontak. Aku pun melepasnya sesaat.
“Kyu, ini di… “
“Diamlah.”
Lalu kulanjutkan lagi ciumanku tadi. Kurasakan Sungmin mulai menyambut ciumanku. Hah… Mungkin Tuhan akan melaknatku kali ini. Karena aku telah berani berciuman di pemakaman. Biarlah… Apa peduliku? Yang penting Sungmin telah jadi milikku kini.




END 

Rabu, 21 November 2012

FF - It's been A While (Chapter 3)


<chapter 2 preview>

Aku tersenyum samar. “Lalu mengapa kau masih saja murung seperti itu? Tersenyumlah, kalau perlu tertawalah jika kau memang benar-benar yakin dengan dirimu. Aku pun yakin kau pasti bisa melalui semuanya. Lagipula kau akan terlihat lebih cantik jika kau tersenyum.”
Ah, kau melakukannya lagi Cho Kyuhyun! Kau, dengan tidak sopan, memujinya secara terang-terangan! Namun apa peduliku? Sungmin pun kini tengah tersenyum menuruti perkataaanku.
“Nah, begitu lebih baik, Sungmin-ssi.” Kataku.
“Gomawo. Oh ya, jangan panggil aku dengan sebutan formal itu lagi. Kau bisa memanggilku Sungmin saja atau Minnie.” Pintanya.
“Begitupun sebaliknya. Panggil aku Kyuhyun atau Kyu saja.”



IT'S BEEN A WHILE
Chapter 3



Sejak saat itu kami semakin dekat setiap harinya. Sungmin selalu datang ke café. Bahkan setiap hari sepulangnya dari kuliah. Entah macchiato, espresso atau hanya latte saja yang ia minta padaku. Sepertinya ia nyaman bisa berada di dekatku. Hei, tak apa kan jika aku sedikit berharap?
“Kau tahu, hyung, dia benar-benar mirip dengan Minnie noona.” Kataku pada Donghae hyung ketika kami menghabiskan waktu berdua saja di salah satu kedai ramen di Incheon.
“Emm… jinja mashita! Ramen buatan ajumma ini memang enak!” katanya tanpa mendengarkan perkataanku.
“Hyung, dengarkan ketika aku bicara!” bentakku padanya.
“Ya! Aku ini hyungmu, sopanlah sedikit! Dasar bocah evil!” ucapnya dengan mulut penuh ramen.
“Ish… terserah kau sajalah!” aku menyerah. Susah sekali mengajak bicara orang yang sedang makan makanan kesukaannya.
Donghae hyung tiba-tiba tertawa.
“Mengapa kau tertawa, hyung?” tanyaku padanya.
“Kau ini… lucu sekali. Kau bisa berubah kekanak-kanakan saat kau jatuh cinta.” Katanya.
“Mwo? Jatuh cinta pada siapa?”
“Kau tahu maksudku.”
“Anijyo… Aku baru mengenalnya beberapa hari, hyung. Aku juga bisa dekat dengannya karena aku merasa dia benar-benar Minnie noonaku.”
“Kuharap kau tak seperti itu lagi.” Saran Donghae hyung padaku.
“Wae?”
“Mereka dua orang yang berbeda, Kyuhyun ah. Jika kau mendekati Sungmin hanya karena kau menganggapnya Minnie noonamu, maka kau malah semakin menyakitinya.”
Aku tak mengerti maksud Donghae hyung. Pernyataan itu tak kusanggah ataupun kujawab. Aku memilih diam dan memikirkannya kembali. Apakah aku salah jika aku memang menganggap Sungmin Minnie noonaku?
Kyuhyun’s pov end

Sungmin’s pov
Hari ini aku datang lagi ke café tempat Kyuhyun bekerja. Tak bisa kupungkiri bahwa semakin hari aku semakin dekat dengannya. Entah karena aku yang terlalu banyak bicara atau memang dia yang bisa menerima orang dengan mudah. Apapun itu aku benar-benar merasa nyaman bisa berteman dengannya.
 “Kyuhyun ah, kau punya waktu besok?” tanyaku padanya ketika aku duduk di kursi bar.
Seperti biasa, Kyuhyun tengah sibuk dengan bubuk putih dan hitamnya.
“Ne, aku libur besok. Wae?”
“Maukah kau menemaniku ke Seoul?” pintaku tanpa basa-basi.
Oh, berani sekali kau Lee Sungmin! Kau benar-benar tak tau malu! Ah, biarlah. Aku memang membutuhkan seorang teman untuk ke Seoul kali ini. Apa salahnya jika aku mengajak Kyuhyun?
 “Memang ada apa di Seoul?” tanyanya.
“Ani… aku hanya ingin ke gyeongbok. Aku harus membuat beberapa sketsa disana.” Jawabku.
“Gyeongbokgung?”
“Ne!”
“Keurae. Aku akan menemanimu!”
“Jeongmal? Gomawo, Kyuhyun ah!” teriakku.
“Ish… Minnie ah, pelankan suaramu. Besok aku tunggu di stasiun kereta ne?” ucapnya.
“Keurae!”
Entah mengapa hatiku menjadi senang sekali. Sungguh diluar dugaan ia mau menemaniku. Kini aku hanya bisa tersenyum sendiri bak anak kecil yang baru saja diberi hadiah kesukaannya.
“Jeongmal kyeopta!” kata Kyuhyun sambil mengacak rambutku.
DEG!
Apa ini?
DEG!
Lagi? Hei jantung, mengapa kau berdetak begitu keras?
Ya Tuhan, mengapa Kyuhyun terlihat seperti itu? Dia terlihat begitu… tampan! Dan mengapa jantungku berdetak seperti ini? Apakah ini berarti aku mulai menyukainya? Eh? Apa? Menyukainya?
.
.
Aku menginjakkan kakiku di stasiun kereta di pusat Incheon. Bertemu dengan Kyuhyun dan menaiki kereta yang nantinya akan membawa kami ke stasiun jalur 3 di gyeongbok, Seoul.  Aku tak banyak bicara hari ini. Entah mengapa hatiku semakin berdebar ketika aku berada disampingnya. Hingga ia mulai berbicara padaku.
“Minnie ah, gwaenchanayo? Kau tak banyak bicara sejak di stasiun tadi.”tanyanya ketika kami berada di dalam kereta.
“Ah, ani. Nan gwaenchana.” Hanya itu yang bisa keluar dari mulutku.
Selama kami di Gyeongbokgung pun aku jarang berbicara. Selalu saja ia yang mengajakku bicara. Aku tak tahu harus bicara apa. Setiap aku memandangnya maka wajahku akan terasa panas. Itulah mengapa aku tak berani mengajaknya bicara.
“Hemm… Bangunan utama dari Gyeongbokgung.” Katanya tiba-tiba ketika kami memasuki komleks istana. “Geunjeongjeon, ruangan tahta raja dan paviliun Gyeonghoeru yang bertiangkan 48 buah tonggak granit.”
“Wah, kyuhyun ah, kau hafal sekali?” kagumku padanya.
“Aku memang jenius sejak dulu, Minnie. Hehe…” katanya.
Anak ini terlalu percaya diri! Ah, sudahlah. Lagipula karena kalimat narsisnya itu kini kami lebih bisa banyak bicara. Dia bercerita banyak hal, aku pun begitu. Kami merasa nyaman satu sama lain. Ah, menyenangkan sekali.
Tak banyak yang kami lakukan di istana. Aku hanya membuat beberapa sketsa dan tak lama kemudian kami putuskan untuk keluar dari tempat itu.
“Ah, kebetulan kita di Seoul. Mau ku ajak ke suatu tempat?” Tanya Kyuhyun.
‘Tentu saja. Siapa yang bisa menolak ajakan namja baik sepertimu?’ batinku.
“Eodiga?” tanyaku.
“Kau akan tahu. Ayo ikut aku!”
Seketika ia menarik tanganku untuk mengikuti langkahnya. Dan…
DEG! DEG! DEG!
Lagi-lagi jantungku berdegup kencang. Oh, Kyuhyun ah, jika ka uterus seperti ini aku bisa terkena seranagan jantung mendadak. Namun tentu saja dia tak mengerti.  Ia masih saja menarik tanganku hingga kami berada di suatu kompleks pemakaman tak jauh dari Gyeongbokgung. Eh? Tunggu? Mengapa dia mengajakku ketempat ini?
“Kyuhyun ah, mengapa kau membawaku ke pemakaman?” tanyaku dengan sedikit nada takut.
Ia tak menjawabnya dan tetap menggandeng, ah bukan, menarik tanganku. Ia berjalan mantap ke depan seakan ingin bertemu seseorang. Hingga kami berhenti di depan pusara putih dari batu pualam. Aku melihat foto dan nama yang tertera diatas pusara indah itu. Seketika itu juga aku hampir jatuh karena shock setelah selesai membaca nama yeoja yang telah meninggal itu.
“Dia mirip sekali denganku! Kyuhyun ah…”
Kyuhyun hanya tersenyum menatapku. Kemudian ia mengalihkan pandangannya kembali pada pusara.
“Annyeong noona. Senang bisa kembali kemari.”
Noona? Apakah LEE SUNGMIN ini noonanya yang telah meninggal?
“Aku mengajaknya kemari, noona. Sama persis denganmu bukan?” lanjutnya berbicara pada benda mati itu.
Aku hanya bisa menatapnya bingung. Apa maksud dari ini semua? Sungguh aku tak mengerti.
.
Kyuhyun mengajakku untuk sekedar duduk di taman di sekitar kompleks pemakaman. Aku masih tak mengerti mengapa ia membawanya ke tempat ini dan mengapa ada orang yang sama denganku walaupun orang itu telah meninggal.
“Aku mencintainya.” Kata Kyuhyun ketika kami duduk berdua menghadap danau buatan di taman itu.
Sakit! Itulah yang kurasakan. Entah mengapa aku tak suka jika ia mencintai seseorang walaupun orang itu tak ada di dunia ini. Lebih tepatnya aku… cemburu.
“Dia meninggal tiga tahun lalu karena tumor yang menyerang otaknya. Aku mencintainya dan tak sempat mengatakan hal itu padanya.” Ceritanya sambil menatap kosong ke depan.
“Cih, padahal Tuhan memberiku banyak waktu untuk bersamanya. Tapi aku tak pernah menyadari perasaanku sendiri hingga Tuhan mengambilnya.” Lanjutnya sambil tertawa miris.
Tak lama kemudian kulihat matanya mulai memerah. Ya Tuhan, apakah dia menangis?
Lalu ia menunduk lemah dan menghela nafasnya. “Aku begitu bodoh, Minnie ah…”
Kini tubuhnya mulai bergetar. Aku yakin sekali ia menangis kali ini. Aku mencoba menyentuh punggungnya.
“Kyuhyun ah… kau…”
DEG!
Belum sempat aku melanjutkan kalimatku, Kyuhyun telah memelukku erat. Dia menangis di pundakku. Menangis dalam diam. Sungguh menyakitkan. Aku hanya bisa mengelus punggungnya pelan alih-alih memberikan rasa nyaman untuknya.
“Dan mengapa kau malah datang?” tanyanya.
Mwo? Apa maksudnya? Mengapa dia seolah menyalahkanku?
Sedetik kemudian ia melepas pelukannya. Namun tak hanya itu. Ia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Begitu dekat hingga aku bisa mendengar deru nafasnya yang tak beraturan karena tangisan yang tak kunjung berhenti. Dan…
Chuu~~
Bibir kami bersentuhan. Aku membuka mataku lebar-lebar. Ya Tuhan!
DEG! DEG! DEG!
Jantungku mulai berdetak tak normal lagi. Aku menikmati ciumannya beberapa detik sebelum aku merasakan sakit di dadaku. Sakit karena yang ia maksud sebenarnya bukan aku. Sakit karena yang ia inginkan sebenarnya bukan aku. Ini salah! Salah besar!
Aku mulai meronta dan dia pun melepaskan ciuman itu. Kemudian…
PLAKK!
Sungmin’s pov end

Kyuhyun’s pov

Ish… sakit. Mengapa dia menamparku? Aku mengelus pipi kiriku pelan.
Aku kini menatap wajahnya lekat-lekat. Oh tidak, wajahnya memerah dan kulihat air matanya mulai tak terbendung. Ia menatapku dengan tatapan benci. Aku yakin aku ingin membunuh diriku saat itu juga.
“Minnie ah…” kataku mencoba memegang tangannya. Namun tak kusangka, dia menepis tanganku dengan kasar.
“Mianhae, tapi aku bukan Minnie noonamu. Tolong jangan mempermainkanku, Kyuhyun-ssi.” Lirihnya sambil terisak.
Mwo? Aku sama sekali tak pernah mempermainkannya!
“Terimakasih telah menemaniku hari ini. Aku permisi.” Katanya mengakhiri pertemuan kami hari itu karena setelah itu ia pergi meninggalkanku terduduk sendiri.
Inikah kelemahanku? Bahkan aku tak sanggup untuk mengejarnya. Terkutuk kau Cho Kyuhyun! Dasar namja bodoh!





TBC